Pandemi COVID-19 telah mengubah wajah pendidikan Indonesia secara drastis. Pembelajaran yang semula tatap muka , kini bertransformasi menjadi model hybrid yang menggabungkan pembelajaran daring dan luring. Perubahan ini menuntut guru untuk tidak hanya menguasai materi ajar, tetapi juga memiliki literasi digital yang memadai. Literasi digital mencakup kemampuan mengakses, memahami, mengevaluasi, dan mengkomunikasikan informasi melalui berbagai platform digital yang kini menjadi kompetensi fundamental bagi setiap pendidik. Berdasarkan data Kemendikbudristek, hanya sekitar 40 persen guru di Indonesia yang memiliki kemampuan literasi digital tingkat menengah ke atas. Sisanya masih berkutat dengan kendala teknis dasar seperti mengoperasikan aplikasi video conference atau mengelola LMS. Sementara itu, siswa generasi Z dan Alpha tumbuh sebagai digital native yang fasih menggunakan teknologi. Kesenjangan ini menciptakan gap komunikasi dalam proses pembelajaran, di mana guru seringkali merasa tertinggal dari peserta didik mereka sendiri. Tantangan utama yang dihadapi meliputi keterbatasan infrastruktur terutama di daerah 3T, minimnya pelatihan yang berkelanjutan dan terstruktur, serta resistensi terhadap perubahan dari sebagian guru yang masih nyaman dengan metode konvensional. Namun di balik tantangan tersebut, era pembelajaran hybrid membuka peluang besar. Platform digital memungkinkan guru mengakses ribuan sumber belajar berkualitas, mendorong personalisasi pendidikan, dan membuka kesempatan kolaborasi global dengan pendidik dari berbagai negara. Untuk memaksimalkan peluang ini, diperlukan strategi komprehensif dari berbagai pihak. Pemerintah perlu merancang program pelatihan yang berkelanjutan, sekolah dapat membentuk komunitas belajar profesional, dan guru milenial berperan sebagai motor penggerak transformasi digital. Literasi digital bukan lagi pilihan, melainkan kebutuhan mendesak yang memerlukan sinergi semua pihak agar pendidikan Indonesia dapat bertransformasi dan mempersiapkan generasi yang siap menghadapi tantangan abad ke-21. Di era digital, guru yang baik adalah yang bijak memanfaatkan teknologi untuk menciptakan pembelajaran bermakna. Mahasiswa PGSD Universitas Ngudi Waluyo, Ungaran